KORANJURI.com - AA. Ngurah Agung: Larangan Tajen Perlu Dikaji Ulang KORANJURI.com - AA. Ngurah Agung: Larangan Tajen Perlu Dikaji Ulang

HOME | Mimbar | Delik | Rekam Kejadian | Pendidikan | Ekbis | Hiburan | Distrik Wisata | Seni Budaya | Akselerasi | Mail Contact | Foto




1 2 3 4









AA. Ngurah Agung: Larangan Tajen Perlu Dikaji Ulang


25 Maret 2014 | Koranjuri.com

AA. Ngurah Agung: Larangan Tajen Perlu Dikaji Ulang
KORANJURI.COM Pengelolaan tajen sangat memungkinkan untuk mendatangkan pendapatan di sektor wisata.

Tokoh Puri Gerenceng, Anak Agung Ngurah Agung sependapat jika tajen dikelola secara terbatas. Menurutnya, hal itu bukan saja mampu meminimalisir tingkat kerawanan sosial jika dikelola dengan baik.

Tajen ini hampir tak bisa lepas dari kehidupan orang Hindu di Bali. Tajen dilarang karena sering dikaitkan dengan judi, kata AA. Ngurah Agung.

Menurutnya, sabung ayam khas Bali ini awalnya dilangsungkan untuk melengkapi upacara mecaru atau pembersihan yang dilakukan saat purnama tilem. Tabuh rah identik dengan sabung ayam hingga salah satu ayam meneteskan darah ke tanah. Itulah yang disebut sebagai yadnya atau persembahan.

Namun pada perkembangannya, menurut AA. Ngurah Agung, Tabuh Rah berubah menjadi sabung ayam yang disebut tajen. Tajen sendiri berasal dari kata taji atau metajian yang berarti saling beradu taji. Karena itulah dalam tajen, ayam diadu sampai mati.

Yang kurang tepat disini karena ada pertaruhan uang. Tapi bukan berarti tajennya salah, ini tradisi yang ada di Bali sejak lama, terang politisi partai Golkar ini.

Ditambahkan, di dalam tajen juga ada semangat sosial yang menurutnya tak ditemukan di lingkup sosial lain. Menurut Ngurah Agung, tajen bukan semata-mata melakukan praktik perjudian. Dalam beberapa kegiatan tajen justru sering digunakan untuk melakukan penggalangan dana.

Ini yang perlu dikaji lebih mendalam. Sejak sekitar tahun 1980-an tajen dilarang karena dianggap judi, terang Ngurah Agung.


way